Doom Spending, FOMO, dan Gengsi: Kenapa Kita Boros dan Cara Ngeremnya Tanpa Nyiksa Diri

Tim Moneysaurus ยท 2026-07-18

Pernah habis hari yang berat, buka HP, dan tiba-tiba udah checkout barang yang sebenarnya nggak butuh? Atau scroll medsos, lihat teman liburan atau punya gadget baru, terus ada rasa nggak enak yang bikin kamu ikut belanja biar nggak ketinggalan? Itu bukan tanda kamu orang yang lemah atau boros parah. Itu manusiawi, dan ada nama plus penjelasannya.

Boros itu sering soal perasaan, bukan cuma disiplin

Belanja untuk meredakan stres punya istilah: doom spending. Ini kebiasaan beli barang, sering yang nggak penting, buat ngademin kecemasan soal ekonomi atau hidup secara umum. Survei Intuit Credit Karma menemukan sekitar 41% Gen Z mengaku melakukan doom spending untuk meredakan rasa cemas, dan 42% melakukan panic buying karena takut harga naik (Entrepreneur, mengutip riset Credit Karma). Datanya dari Amerika, tapi polanya kerasa banget di sini juga: di tengah tekanan ekonomi, banyak anak muda Indonesia menjadikan belanja impulsif sebagai pelarian sesaat dari stres (Snapcart, 2024).

Lalu ada FOMO dan gengsi. Riset Populix dalam "Indonesia Digital Economic and Financial Outlook 2024" menemukan Gen Z cenderung belanja lebih impulsif dan berpusat pada gaya hidup, banyak didorong paparan media sosial yang membentuk mental fear of missing out, yaitu takut ketinggalan tren (Bloomberg Technoz). Tekanan buat kelihatan "nggak ketinggalan" itu nyata, dan kadang ujungnya dibayar pakai utang. OJK mencatat kelompok usia 19-34 tahun mendominasi pinjaman online, yaitu sekitar 58,72% dari total akun penerima pinjol aktif (GoodStats, data OJK Statistik Fintech Lending).

Dan ada satu faktor teknis yang bikin makin gampang bocor: pembayaran sekarang nyaris tanpa gesekan. Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS menembus 6,05 miliar transaksi senilai Rp579 triliun hanya di semester I 2025, dengan 57 juta pengguna (Infobanknews, data BI). Volumenya tumbuh sekitar 139,9% dibanding tahun sebelumnya (GoodStats, Laporan Perekonomian BI 2025). Artinya miliaran tap kecil, masing-masing terasa remeh, tapi numpuk jadi angka besar. Uang jadi terasa nggak nyata karena nggak ada lagi lembaran fisik yang berkurang di dompet.

Cara ngeremnya tanpa nyiksa diri

Kuncinya bukan menghukum diri. Rasa bersalah justru sering memicu putaran belanja berikutnya. Ini urutan yang lebih lembut dan lebih tahan lama.

1. Akui dulu perasaannya. Sebelum ngerem dompet, akui: "Aku lagi capek/cemas/insecure, dan otakku nyari pelarian cepat." Ini bukan basa-basi. Begitu kamu sadar pemicunya emosi, kamu punya jarak untuk memilih respons lain, misalnya jalan sebentar, nelpon teman, atau tidur dulu, sebelum tangan otomatis checkout.

2. Bingkai ulang FOMO lawan tujuanmu sendiri. Feed medsos itu etalase, bukan kenyataan utuh. Yang kamu lihat cuma potongan paling kinclong dari hidup orang. Pas muncul dorongan "ah beli aja biar sama", tanya: ini mendekatkan aku ke hal yang aku mau, atau cuma mendekatkan aku ke citra yang aku pengen orang lihat? Rayakan progres yang sunyi, seperti tabungan yang naik pelan atau utang yang berkurang, karena itu yang beneran mengubah hidupmu, bukan story yang hilang dalam 24 jam.

3. Pasang jeda dan cek pola, bukan nyalahin satu transaksi. Rem paling ampuh datang tepat di momen mau belanja, bukan nasihat umum belakangan. Kasih aturan jeda: untuk barang non-esensial di atas nominal tertentu, tunggu 24 jam. Sering-sering keinginannya menguap sendiri. Lebih penting lagi, lihat pola gabungannya. Bukan soal satu kopi Rp25 ribu, tapi kalau tap-tap kecil itu ternyata Rp900 ribu sebulan, di situ kamu baru sadar. Mencatatnya bisa segampang chat "kopi 25rb" ke Moneysaurus di WhatsApp, biar pola kecil yang tadinya nggak kelihatan jadi kelihatan.

4. Otomatiskan nabung biar potongannya nggak kerasa. Riset ekonomi perilaku menunjukkan rasa sakit kehilangan uang jauh lebih besar daripada senangnya dapat jumlah yang sama. Makanya nabung terasa berat: seperti "kehilangan". Solusinya, jangan andalkan niat harian. Set auto-debit ke tabungan tepat setelah gajian, sebelum uangnya sempat kamu "rasakan". Yang nggak pernah mampir ke rekening belanja, nggak akan terasa hilang.

Pemicu Yang biasanya terjadi Rem lembutnya
Hari berat, stres Doom spending buat pelarian Akui emosinya, kasih jeda 24 jam
Lihat teman flexing Ikut beli biar nggak ketinggalan Tanya: ini tujuanku atau citraku?
Tap QRIS/e-wallet kecil terus Bocor halus tanpa sadar Lihat total sebulan, bukan per transaksi
Nabung terasa berat Niat sering kalah Auto-debit tepat setelah gajian

Satu hal yang perlu dibawa pulang

Kamu nggak boros karena kamu orang gagal. Kamu boros karena kamu manusia yang lagi cemas, ditarik tekanan sosial, dan dikelilingi pembayaran yang terlalu gampang. Jadi berhenti menghukum diri, dan mulai memasang sistem yang lembut: akui perasaan, kasih jeda, lihat polanya, otomatiskan tabungan. Ngerem yang paling awet itu yang nggak terasa seperti hukuman.

Sumber data: doom spending Gen Z dari survei Intuit Credit Karma via Entrepreneur; fenomena di Indonesia dari Snapcart; FOMO dan belanja impulsif Gen Z dari riset Populix via Bloomberg Technoz; dominasi usia 19-34 tahun di pinjol dari data OJK via GoodStats; pertumbuhan transaksi QRIS dari Bank Indonesia via Infobanknews dan GoodStats.